Wednesday, May 30, 2007

Mati Listrik di Samarinda-Balikpapan-Kukar

Senin sore, sepulang kerja ternyata listrik di rumah mati. Ya emang sih di Balikpapan ini sering banget mati listrik, tapi koq tumben matinya mulai jam empat sore. Biasanya kalau pemadaman paling mulai jam 18.00-22.00 atau jam 8.00-18.00.

Ba'da maghrib, terpaksa SENKAI (Sentra Kegiatan Anak Islam) di langgar dekat rumah kami liburkan. Mati lampu sih, kasihan anak-anak kalau dipaksa beraktivitas hanya bermodal emergency lamp.

Menginjak jam sembilan malam, listrik masih belum nyala. Kami sekeluarga bertahan di rumah Eyang karena di situ ada genset. Kalau pulang ke rumah berarti hanya diterangi lilin, plus hawa panasnya itu lho yang bikin Hilmi-Hanif-Hisyam susah tidur. Jadilah malam itu kami bermalam di tempat Eyang supaya anak-anak bisa tidur dengan kipas angin.

Hmm, sudah jam dua belas koq belum nyala ya? Eyang Kakung mulai kesal nih. Apalagi setelah lihat ke luar rumah ternyata di daerah Pupuk dan PDAM sudah menyala lampunya. Akhirnya Eyang Kung sambar motor.

"Ke mana Pak?" tanya Bunda.
"Mau ke PLN," jawab Eyang Kung singkat.

Sepulang dari PLN Eyang masih jutek, tidak ada jawaban memuaskan. Hanya permintaan maaf yang diterima. Alasannya, ada gangguan karena di hulu Mahakam sedang banjir. Karena genset sudah menyala cukup lama, akhirnya terpaksa dimatikan. Kalau tetap dibiarkan menyala pasti overheat dan rusak. Jadilah Ayah Bunda ngipasin Hilmi-Hanif-Hisyam sambil terkantuk-kantuk. Alhamdulillah sekitar jam 2 pagi listrik akhirnya menyala.

Pagi-pagi di kantor Ayah semua pembicaraan berkisar pada masalah listrik. Ada rumah teman Ayah yang bahkan hingga berangkat kerja belum menyala juga. Berita di koran, ternyata ada gangguan sistem interkoneksi Mahakam. Banyak wilayah di Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara (Kukar) yang mati listrik hingga 12 jam atau lebih.

Cita-cita Ayah sih, kalau sudah ada rizqi untuk renov rumah sekaligus pasang solar cell alias panel listrik tenaga surya. Ramah lingkungan, dan bisa 100% lepas dari PLN. Tentu kalau pasangnya buanyak

Tapi sementara belum pasang, ya terpaksa menggantungkan diri dengan PLN deh. Gimana nih Om Adho, koq listrik Balikpapan mati terus?

NB. Khasnya orang PLN, kalau ada yang protes tentang listrik pasti akan bilang "Jangankan rumah situ, rumah saya aja juga mati listrik!"

Tuesday, May 29, 2007

Belajar Gratis di Massachusets Institute of Technology (MIT)

http://ocw.mit.edu/index.html
MIT membuka OpenCourse Ware ini agar semua warga dunia bisa memperoleh akses ilmu dari MIT. Saya sendiri memanfaatkan OCW untuk memperoleh memperkaya ilmu arsitektur, tapi di OCW kita bisa melihat bahan perkuliahan dari banyak jurusan lain juga. Bahan kuliah berbentuk pdf, ukurannya berkisar 20-100MB.

Kumpulan Situs Sekolah Alam

http://sekolahalam.blogspot.com
Berawal dari gagasan Lendo Novo dkk, Sekolah Alam yang tadinya hanya di Ciganjur berkembang. Tidak hanya dari grupnya Pak Lendo, banyak juga pihak lain yang menyelenggarakan sekolah berbasis alam. Beberapa situs di bawah ini dibuat oleh Mbak Vera (http://verawahyudi.multiply.com). Berikut kumpulan linknya.

1. Sekolah Alam Ciganjur
http://www.sekolahalam.org/
http://sekolahalam.blogspot.com/
http://saciganjur.blogspot.com/
http://cerita-ciganjur.blogspot.com/
http://www.tekabebintang.blogspot.com/
Klub Robotik Sekolah Alam Ciganjur: http://crsa.multiply.com/journal

2. Sekolah Lanjutan (SMP) Alam, Ciganjur/Rawa Kopi
http://sl-sa.blogspot.com/

3. Sekolah Alam Bandung
http://www.sekolahalambandung.com/

4. Sekolah Alam Insan Mulia, Surabaya
http://www.insanmulia-sby.sch.id/

5. Sekolah Citra Alam, Ciganjur
http://www.citraalam.org/

6. Sekolah Peradaban
http://sekolahperadaban.com/

7. Berita tentang "sekolah alam" Kandang Doank milik Dik Doank
http://tunascendekia.org/wordpress/archives/95

8. Sekolah Alam Bojong Kulur, Jatiasih
http://sabkbogor.multiply.com/

9. Sekolah Alam Natur Islam
http://www.oursani.com

10. Sekolah Alam Cikeas
http://www.sacikeas.com
http://www.yayasanpuricikeas.org/galeri/aktifitas_sekolah_alam_cikeas/index.html

11. Sekolah Alam Ar-Ridho, Semarang
http://sekolahalamarridho.wordpress.com/

Tuesday, December 19, 2006

Memaknai Hidup dengan Kerja



Siapakah di antara kita yang bukan pekerja? Apabila Anda menolak disebut sebagai seorang pekerja (mungkin karena memiliki perusahaan sendiri), maka lihatlah kolom "pekerjaan" di KTP Anda. Ya, setiap kita adalah pekerja.

Para nabi pun adalah pekerja. Selain sebagai pekerja dakwah yang mengharapkan imbalan dari Allah semata, mereka masing-masing memiliki pekerjaan sebagai wahana menghidupi keluarga. Kebanyakan dari para nabi pernah bekerja sebagai penggembala ternak, ada pula yang bekerja sebagai pedagang. Bahkan Nabi Daud yang nabi sekaligus raja pun bekerja dengan kedua tangannya. Keahlian beliau adalah sebagai pandai besi.

Mengapa kita bekerja? Hanyakah semata untuk menghidupi anak-istri kita?
Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang bermanfaat bagi manusia lain."
Kesempatan lain Beliau bersabda, "Ada dosa yang tidak dapat ditebus kecuali dengan cucuran keringat seorang hamba Allah dalam mencari nafkah."

Masihkah kita mengecilkan pekerjaan kita? Sesuai sabda Rasulullah tadi, paling tidak kita niatkan bahwa dengan bekerja, kita termasuk manusia yang baik, yang masih dapat bermanfaat bagi manusia lain. Atau bahkan, kita niatkan setiap kerja kita menafkahi keluarga sebagai wahana penebus dosa-dosa kita. Rasulullah merahasiakan dosa yang dimaksud, namun bolehlah kita berharap bahwa dengan bekerja dosa yang kita lakukan diampuni oleh Allah swt.

Satu yang selalu saya ingat, dalam kelelahan dan jemu saat bekerja adalah ucapan si sulung Hilmi, ketika usianya tak lebih dari 3 tahun. Saat itu, ketika saya dan istri hendak berangkat kerja ia menyahut.
"Bunda mau ke mana? Mau kerja ya?" celoteh Hilmi pagi itu.

"Iya Mas, Bunda mau kerja dulu. Insya Allah nanti sore kita main lagi," sahut istriku.

"Bunda kerja mau cari ridho Allah?"

Langkahku terhenti sejenak, sambil menatapnya dengan mata berkaca aku menyahut,

"Iya Mas, insya Allah Bunda akan mencari ridho Allah."

"Ayah juga? Ayah kerja? Cari ridho Allah?" tanyanya lagi.

"Iya, insya Allah," jawabku sambil memeluknya. Erat.





Friday, September 15, 2006

Alhamdulillah, Dapat Hadiah!


Tak disangka, kemarin sepulang dari kantor (Kamis, 14 Sept) sudah menunggu sebuah paket untuk dibuka. Ternyata hadiah dari Eramuslim.com sudah datang. Hadiah ini saya dapatkan karena berpartisipasi dalam pengisian angket di situs itu. Awalnya justru tidak tahu bahwa masukan yang saya tulis terpilih menjadi salah satu pemenang, tahunya malah dari seorang kawan di sini yang mengirimkan email sebagai ucapan selamat.

Hadiah yang dikirimkan berupa sebuah pulpen yang dilengkapi dengan MP3 player Al Qur'an dan sebuah paket berisi 4 buah buku dari Penerbit Pro-U. Buku yang paling saya suka tentu Inspiring Words For Writer karya Faudzil Adhim, karena terakhir ke Jakarta untuk cari buku ini sudah kehabisan. Alhamdulillah akhirnya rizqi tersebut datang melalui Eramuslim. Tiga buku lainnya saya baca yang penting saja, mengingat ditulis dengan gaya bahasa gaul. Memang buku ini untuk segmen anak muda (ah, sok  tua nih ). Terus terang, sampai sekarang saya paling pusing kalau membaca tulisan dengan gaya bahasa seperti itu.

Jazakumullah khairan katsir pada Eramuslim.com atas hadiah yang dikirimkan. Alhamdulillah koq sampai juga, padahal saya perhatikan nomor rumahnya salah. Harusnya nomor rumah saya 27, tapi tertulis 37. Sekaligus mohon maaf kepada Mbak dari Eramuslim yang menelepon saya dua hari sebelumnya untuk mengkonfirmasi alamat, sengaja saya tidak mengucapkan "Assalamu 'alaikum" ketika mengangkat telepon karena nomornya tidak terdaftar di ponsel saya. Memang ini kebiasaan saya, mengingat kadang ada telepon dari klien yang non muslim. Wajar kalo Mbak tersebut kemudian menutup pembicaraan dengan mengucapkan "Selamat siang"

Semoga Eramuslim makin baik lagi dalam menyajikan informasi yang berpihak pada Islam, dan semoga usulan saya agar arsip tanya jawab ustadz yang sudah lama lewat ditampilkan lagi bisa terwadahi oleh manajemen Eramuslim.


Tuesday, July 25, 2006

[Celoteh] Hilmi's Fight

This afternoon while picking Hilmi up form school, Miss Ida, his English teacher, said to me.
"Hilmi went into a quarrel with Faiz."
"What? How could it be?" I asked. For I know, Faiz was his best friend at kindergarten. Before they join the kindergarten, the two kids often spent time playing together because Faiz's mother is my wife's best friend.

"Ah, it's okay. you know, kids stuff," Miss Ida said.
"They're alright now, already friends again. Right, Faiz?" she asked Faiz who then joined Hilmi. Her mother was next to him prepared to bring him home also.
"Hm," Faiz nodded.

I haven't got the details yet about the fight, but in my opinion, quarrels are not intended to be left alone. They need to be solved. Parents can also have the opportunity to explain Islamic wisdom through this. As a matter of fact, all events circling our children's daily life should be taken to introduce them Islamic teachings.

For example, our prophet said, "Laa taghdhob, wa lakal jannah." You must not be angry, then the paradise will be rewarded to you. This simple hadeets can be taught to our children at early age. Eventually, they will have the ability to communicate their disagreeness or dissapointment without getting angry. Simple, but may be hard for a young child.

Tentang Perselingkuhan


Beberapa bulan lalu saya dan istri mengikuti kajian tentang keluarga sakinah. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai perselingkuhan. Yang pertama adalah perselingkuhan psikologis (psychological affair) dan yang kedua perselingkuhan fisik (physical affair).

"Perselingkuhan fisik, mungkin sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi pada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang gemar mengikuti kajian Islam seperti ini," kata sang ustadz. "Walaupun bisa saja itu terjadi," lanjut beliau. Ada sebuah kasus di mana seorang ibu yang rajin mengaji dan suaminya orang terpandang di perusahaan besar di Balikpapan ini ternyata menyimpan rahasia yang kelam. Suaminya sering mengajak dia ke hotel untuk melakukan threesome (hubungan seks bertiga) dengan gigolo maupun pelacur. Apabila suaminya tidak mau maka istrinya tersebut akan dipaksa atau dipukul. Hingga kadang sang ibu tersimpuh bertahajud sementara suaminya berasyik masyuk dengan pelacur itu di kamar hotel yang sama. Na'uzubillah min dzalik.

Ini kisah nyata. Disampaikan sendiri oleh sang istri kepada ustadz. Sang ustadz pun yang kenal dengan suaminya benar-benar tak percaya bahwa orang yang sepertinya baik dan terpandang bisa melakukan itu.

Lain halnya dengan perselingkuhan psikologis. Jenis perselingkuhan ini biasanya dapat terpelihara lebih lama karena mengandung ikatan emosional yang dalam. "Saya tidak berbicara tentang orang lain, saya berbicara tentang diri saya sendiri," kata ustadz. Sebagai ustadz yang sering berceramah mengenai masalah keluarga, satu ketika datang SMS dari seorang wanita yang ingin meminta pendapat beliau. "Awalnya SMS itu hanya biasa saja, meminta advice. Tapi lama-lama, ada kerinduan juga ketika tidak ada SMS yang tiba," kata beliau.

Setelah sekian SMS, sang wanita meminta untuk bertemu. Jadilah ajang konsultasi itu dilakukan di masjid. Maksudnya agar tidak terjadi ikhtilat. "Tapi ya walaupun dilakukan di masjid yang ramai, tetap saja isi pembicaraan tersebut milik berdua khan?" lanjut ustadz. Tak dinyana, pada sebuah pertemuan sang wanita tadi menyatakan minatnya untuk menjadi istri sang ustadz. "Saya pun sebenarnya tertarik, tapi akal sehat saya mengatakan, tunggulah dulu. Saya harus memikirkan ini," lanjutnya.

Lepas pertemuan dengan sang wanita ini, ustadz pergi untuk sebuah acara lain hingga larut malam. Tidak seperti biasanya, beliau lupa membawa kunci rumah sehingga harus mengetuk pintu untuk membangunkan istri beliau. Setelah membukakan pintu, sambil masih mengantuk istri beliau bertutur, "Abi, Ummi mimpi Abi mau mengenalkan ke Ummi seorang muslimah untuk menjadi istri baru Abi. Tapi Ummi nggak suka."

Blaar..! Terperangahlah sang ustadz mendengar penuturan istrinya. Sementara sang istri melanjutkan tidurnya, ustadz tak bisa tidur. Dipandanginya wajah sang istri yang tidur pulas. Lalu ditengoknya anak-anak yang juga sedang tidur. "Nggak, nggak bisa ini. Kalaupun istri setuju, anak-anak pasti tidak akan bisa menerima," kata batin ustadz berbicara.

Maka diaturlah pertemuan terakhir terakhir dengan wanita tersebut, dan dengan halus ustadz menolak wanita itu. Sang wanita pun menangis, "Tidak apa-apa. Saya mengerti. Paling tidak saya lega karena telah mengungkapkan isi hati saya." Demikian sulitnya melenyapkan bekas kenangan itu hingga butuh 6 bulan sampai akhirnya benar-benar tidak ada lagi perasaan apapun terhadap wanita itu.

"Anda boleh tanya kepada istri saya tentang kisah ini kalau tidak percaya. Istri saya pun tahu karena setelah itu saya bercerita kepadanya," sahut ustadz. Penting untuk bersikap terbuka kepada pasangan kita agar dapat bersama-sama memecahkan masalah yang ada. Dengan mengetahui masalah yang kita hadapi, istri akan dapat membantu kita. Meluangkan waktu bersama, melakukan kegiatan bersama, dan sebagainya.

Melalui kasus tersebut, terlihat bahwa batas antara kasihan, simpati, dan cinta itu amat tipis. Tindakan awal kita untuk memicu psychological affair mungkin pada mulanya diawali dari rasa kasihan. Semakin sering kita berinteraksi maka timbul simpati. Lalu akhirnya tumbuh benih cinta.

Tak heran Allah sendiri berfirman, "Laa taqrabuz zina," jangan dekati zina. Mirip juga seperti perintah Allah kepada Nabi Adam as, "Laa taqrabu hadzihisy syajarah," jangan kamu dekati pohon itu. Mengapa dilarang untuk mendekati? Mengapa Allah tidak langsung melarang saja? Janganlah kamu berzina, misalnya. Atau memerintahkan kepada Nabi Adam as jangan kamu makan buah itu, misalnya. Karena larangan langsung akan memicu rasa keingintahuan manusia.

"Kalau tidak boleh memakan buahnya, melihat saja boleh khan?"
"Kalau tidak boleh memakan buahnya, memegang pohonnya boleh khan? Yang penting khan tidak dimakan."
"Kalau hanya membelai daunnya, boleh khan? Saya tahu tidak boleh dimakan buahnya, tapi saya hanya ingin membelai daunnya."
"Saya cuma ingin pegang buahnya koq, tidak akan saya makan. Saya tahu itu tidak boleh dimakan."
Akhirnya, hap. Habislah buah itu dimakannya.

Multiply, bisa jadi mengundang potensi ini juga. Berawal dari berbagi kisah, suka maupun duka. Berlanjut pada komentar simpatik yang diberikan. Selanjutnya, personal message dilayangkan. Akhirnya, berkembanglah simpati menjadi cinta. Jadi? Bijaksanalah dalam bersikap, dan jangan malu-malu untuk berbagi masalah kepada pasangan hidup kita, suami maupun istri. Sebelum masalah berkembang, lebih baik diselesaikan sejak dini.

[Adhika Bayu Pratyaksa-Dewi Husnul Khotimah]