Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Wednesday, July 9, 2008

Amandel Hilmi

Setelah lama tertunda, akhirnya amandel Hilmi akan dioperasi. Sebenarnya sudah sejak April lalu dokter menyarankan untuk operasi, tetapi karena kondisi Hilmi yang masih sering sakit dan belum siap secara mental, maka operasinya ditunda.

Kali ini, Hilmi sendiri yang meminta amandelnya untuk diperiksa. Sejauh ini, alhamdulillah cukup tabah. Kemarin, di sela-sela banjir kami mengantarkan Hilmi ke RS Pertamina Balikpapan. Hasil tes lab dan x-ray bagus, sehingga Hilmi bisa langsung dioperasi. Tapi karena asuransi dari kantor di Jakarta belum bisa dihubungi jadi kami masih menunggu.

Kenapa asuransi kantor belum bisa dihubungi? Soalnya saluran Telkom dan Flexi se-Balikpapan mati! Katanya sih Kandatel Telkom kemarin sempat kemasukan air. Hingga saat ini telepon Flexi kami walaupun ada sinyal tetap tidak bisa dipakai untuk menelepon. Belum pernah banjir di Balikpapan jadi separah ini

Semuanya, doakan operasi Hilmi lancar ya...!

Tuesday, March 25, 2008

Tidak Hanya Tentang Gigi!

Rating:★★★★
Category:Other
Itulah judul yang terpampang di website Drg. Desti (http://www.dokterdesti.co.cc). Dokter gigi yang satu ini selain rutin mengisi rubrik kesehatan gigi di Majalah POLISI, juga hobi mengumpulkan resep-resep masakan. Hanya saja menurutnya, "Resep-resep di web ini belum pernah diuji coba sama sekali!"

Website ini memang baru saja tayang, sehingga isi artikelnya belum terlalu banyak. Namun menurut Drg. Desti, ia sudah menyiapkan beberapa artikel baru yang akan segera dimuat di web tersebut. Mari kita tunggu saja artikelnya.

Sekedar informasi tambahan, dokter gigi yang satu ini adalah adik kami (wargadamai dan renisniken) yang saat ini berpraktik di Ladokgi TNI AL Bendungan Hilir. Sukses ya dek!

Friday, June 15, 2007

Belajar dari keluarga Mutammimul Ula




Slide power point ini bertutur tentang keluarga Pak Tamim (begitu beliau biasa disapa), seorang anggota DPR RI dari PKS. Melihat begitu banyak prestasi beliau dan istri dalam mendidik anak, jadi sediih rasanya. Dengan kesibukan yang masih belum seberapa dibanding Pak Tamim, sepertinya kami koq masih belum bisa mengarahkan anak-anak secara maksimal menuju fitrah keislamannya.

Maafkanlah kami ya Allah, dan ringankanlah langkah kami dalam mendidik anak-anak kami...

Tuesday, July 25, 2006

[Celoteh] Hilmi's Fight

This afternoon while picking Hilmi up form school, Miss Ida, his English teacher, said to me.
"Hilmi went into a quarrel with Faiz."
"What? How could it be?" I asked. For I know, Faiz was his best friend at kindergarten. Before they join the kindergarten, the two kids often spent time playing together because Faiz's mother is my wife's best friend.

"Ah, it's okay. you know, kids stuff," Miss Ida said.
"They're alright now, already friends again. Right, Faiz?" she asked Faiz who then joined Hilmi. Her mother was next to him prepared to bring him home also.
"Hm," Faiz nodded.

I haven't got the details yet about the fight, but in my opinion, quarrels are not intended to be left alone. They need to be solved. Parents can also have the opportunity to explain Islamic wisdom through this. As a matter of fact, all events circling our children's daily life should be taken to introduce them Islamic teachings.

For example, our prophet said, "Laa taghdhob, wa lakal jannah." You must not be angry, then the paradise will be rewarded to you. This simple hadeets can be taught to our children at early age. Eventually, they will have the ability to communicate their disagreeness or dissapointment without getting angry. Simple, but may be hard for a young child.

Tentang Perselingkuhan


Beberapa bulan lalu saya dan istri mengikuti kajian tentang keluarga sakinah. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai perselingkuhan. Yang pertama adalah perselingkuhan psikologis (psychological affair) dan yang kedua perselingkuhan fisik (physical affair).

"Perselingkuhan fisik, mungkin sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi pada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang gemar mengikuti kajian Islam seperti ini," kata sang ustadz. "Walaupun bisa saja itu terjadi," lanjut beliau. Ada sebuah kasus di mana seorang ibu yang rajin mengaji dan suaminya orang terpandang di perusahaan besar di Balikpapan ini ternyata menyimpan rahasia yang kelam. Suaminya sering mengajak dia ke hotel untuk melakukan threesome (hubungan seks bertiga) dengan gigolo maupun pelacur. Apabila suaminya tidak mau maka istrinya tersebut akan dipaksa atau dipukul. Hingga kadang sang ibu tersimpuh bertahajud sementara suaminya berasyik masyuk dengan pelacur itu di kamar hotel yang sama. Na'uzubillah min dzalik.

Ini kisah nyata. Disampaikan sendiri oleh sang istri kepada ustadz. Sang ustadz pun yang kenal dengan suaminya benar-benar tak percaya bahwa orang yang sepertinya baik dan terpandang bisa melakukan itu.

Lain halnya dengan perselingkuhan psikologis. Jenis perselingkuhan ini biasanya dapat terpelihara lebih lama karena mengandung ikatan emosional yang dalam. "Saya tidak berbicara tentang orang lain, saya berbicara tentang diri saya sendiri," kata ustadz. Sebagai ustadz yang sering berceramah mengenai masalah keluarga, satu ketika datang SMS dari seorang wanita yang ingin meminta pendapat beliau. "Awalnya SMS itu hanya biasa saja, meminta advice. Tapi lama-lama, ada kerinduan juga ketika tidak ada SMS yang tiba," kata beliau.

Setelah sekian SMS, sang wanita meminta untuk bertemu. Jadilah ajang konsultasi itu dilakukan di masjid. Maksudnya agar tidak terjadi ikhtilat. "Tapi ya walaupun dilakukan di masjid yang ramai, tetap saja isi pembicaraan tersebut milik berdua khan?" lanjut ustadz. Tak dinyana, pada sebuah pertemuan sang wanita tadi menyatakan minatnya untuk menjadi istri sang ustadz. "Saya pun sebenarnya tertarik, tapi akal sehat saya mengatakan, tunggulah dulu. Saya harus memikirkan ini," lanjutnya.

Lepas pertemuan dengan sang wanita ini, ustadz pergi untuk sebuah acara lain hingga larut malam. Tidak seperti biasanya, beliau lupa membawa kunci rumah sehingga harus mengetuk pintu untuk membangunkan istri beliau. Setelah membukakan pintu, sambil masih mengantuk istri beliau bertutur, "Abi, Ummi mimpi Abi mau mengenalkan ke Ummi seorang muslimah untuk menjadi istri baru Abi. Tapi Ummi nggak suka."

Blaar..! Terperangahlah sang ustadz mendengar penuturan istrinya. Sementara sang istri melanjutkan tidurnya, ustadz tak bisa tidur. Dipandanginya wajah sang istri yang tidur pulas. Lalu ditengoknya anak-anak yang juga sedang tidur. "Nggak, nggak bisa ini. Kalaupun istri setuju, anak-anak pasti tidak akan bisa menerima," kata batin ustadz berbicara.

Maka diaturlah pertemuan terakhir terakhir dengan wanita tersebut, dan dengan halus ustadz menolak wanita itu. Sang wanita pun menangis, "Tidak apa-apa. Saya mengerti. Paling tidak saya lega karena telah mengungkapkan isi hati saya." Demikian sulitnya melenyapkan bekas kenangan itu hingga butuh 6 bulan sampai akhirnya benar-benar tidak ada lagi perasaan apapun terhadap wanita itu.

"Anda boleh tanya kepada istri saya tentang kisah ini kalau tidak percaya. Istri saya pun tahu karena setelah itu saya bercerita kepadanya," sahut ustadz. Penting untuk bersikap terbuka kepada pasangan kita agar dapat bersama-sama memecahkan masalah yang ada. Dengan mengetahui masalah yang kita hadapi, istri akan dapat membantu kita. Meluangkan waktu bersama, melakukan kegiatan bersama, dan sebagainya.

Melalui kasus tersebut, terlihat bahwa batas antara kasihan, simpati, dan cinta itu amat tipis. Tindakan awal kita untuk memicu psychological affair mungkin pada mulanya diawali dari rasa kasihan. Semakin sering kita berinteraksi maka timbul simpati. Lalu akhirnya tumbuh benih cinta.

Tak heran Allah sendiri berfirman, "Laa taqrabuz zina," jangan dekati zina. Mirip juga seperti perintah Allah kepada Nabi Adam as, "Laa taqrabu hadzihisy syajarah," jangan kamu dekati pohon itu. Mengapa dilarang untuk mendekati? Mengapa Allah tidak langsung melarang saja? Janganlah kamu berzina, misalnya. Atau memerintahkan kepada Nabi Adam as jangan kamu makan buah itu, misalnya. Karena larangan langsung akan memicu rasa keingintahuan manusia.

"Kalau tidak boleh memakan buahnya, melihat saja boleh khan?"
"Kalau tidak boleh memakan buahnya, memegang pohonnya boleh khan? Yang penting khan tidak dimakan."
"Kalau hanya membelai daunnya, boleh khan? Saya tahu tidak boleh dimakan buahnya, tapi saya hanya ingin membelai daunnya."
"Saya cuma ingin pegang buahnya koq, tidak akan saya makan. Saya tahu itu tidak boleh dimakan."
Akhirnya, hap. Habislah buah itu dimakannya.

Multiply, bisa jadi mengundang potensi ini juga. Berawal dari berbagi kisah, suka maupun duka. Berlanjut pada komentar simpatik yang diberikan. Selanjutnya, personal message dilayangkan. Akhirnya, berkembanglah simpati menjadi cinta. Jadi? Bijaksanalah dalam bersikap, dan jangan malu-malu untuk berbagi masalah kepada pasangan hidup kita, suami maupun istri. Sebelum masalah berkembang, lebih baik diselesaikan sejak dini.

[Adhika Bayu Pratyaksa-Dewi Husnul Khotimah]