Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Wednesday, April 22, 2015

Tujuh macam persahabatan

7 MACAM PERSAHABATAN, TAPI HANYA 1 TERSISA SAMPAI AKHIRAT

1. “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.

2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.

3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.

5. “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.

6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, di depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).
Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yang bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”

7. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta dan sayang karena ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam dipenghujung malam, ia do'akan sahabatnya.
Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat, yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),
“Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).
Selalu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Barakallahu Fikum

Tuesday, December 19, 2006

Memaknai Hidup dengan Kerja



Siapakah di antara kita yang bukan pekerja? Apabila Anda menolak disebut sebagai seorang pekerja (mungkin karena memiliki perusahaan sendiri), maka lihatlah kolom "pekerjaan" di KTP Anda. Ya, setiap kita adalah pekerja.

Para nabi pun adalah pekerja. Selain sebagai pekerja dakwah yang mengharapkan imbalan dari Allah semata, mereka masing-masing memiliki pekerjaan sebagai wahana menghidupi keluarga. Kebanyakan dari para nabi pernah bekerja sebagai penggembala ternak, ada pula yang bekerja sebagai pedagang. Bahkan Nabi Daud yang nabi sekaligus raja pun bekerja dengan kedua tangannya. Keahlian beliau adalah sebagai pandai besi.

Mengapa kita bekerja? Hanyakah semata untuk menghidupi anak-istri kita?
Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang bermanfaat bagi manusia lain."
Kesempatan lain Beliau bersabda, "Ada dosa yang tidak dapat ditebus kecuali dengan cucuran keringat seorang hamba Allah dalam mencari nafkah."

Masihkah kita mengecilkan pekerjaan kita? Sesuai sabda Rasulullah tadi, paling tidak kita niatkan bahwa dengan bekerja, kita termasuk manusia yang baik, yang masih dapat bermanfaat bagi manusia lain. Atau bahkan, kita niatkan setiap kerja kita menafkahi keluarga sebagai wahana penebus dosa-dosa kita. Rasulullah merahasiakan dosa yang dimaksud, namun bolehlah kita berharap bahwa dengan bekerja dosa yang kita lakukan diampuni oleh Allah swt.

Satu yang selalu saya ingat, dalam kelelahan dan jemu saat bekerja adalah ucapan si sulung Hilmi, ketika usianya tak lebih dari 3 tahun. Saat itu, ketika saya dan istri hendak berangkat kerja ia menyahut.
"Bunda mau ke mana? Mau kerja ya?" celoteh Hilmi pagi itu.

"Iya Mas, Bunda mau kerja dulu. Insya Allah nanti sore kita main lagi," sahut istriku.

"Bunda kerja mau cari ridho Allah?"

Langkahku terhenti sejenak, sambil menatapnya dengan mata berkaca aku menyahut,

"Iya Mas, insya Allah Bunda akan mencari ridho Allah."

"Ayah juga? Ayah kerja? Cari ridho Allah?" tanyanya lagi.

"Iya, insya Allah," jawabku sambil memeluknya. Erat.





Monday, July 3, 2006

[Tafsir] Kajian Tafsir Ibnu Katsir

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Ust. Muslim Gunawan
disarikan dari Kajian Tafsir di Masjid Nurul Haq, Komp. Pertamina Gn. Pipa setiap malam Rabu, ba'da maghrib-isya. Narasumber: Ust. Muslim Gunawan Ilham, MA.

[Al Baqarah 125-130]


Ayat 125 menjelaskan rahasia di balik suasana aman dan tentram yang selalu tercipta di Makkah. Selain dari tingkat kejahatan yang rendah, larangan dari hadits Rasul untuk membunuh binatang dan memotong tanaman di Makkah, juga terlebih lagi adalah karena janji Allah sendiri untuk menjadikannya sebagai tempat yang aman. Juga Allah-lah yang menjadikan hati manusia untuk condong, untuk merasa ingin pergi ke Makkah. Tidak hanya pada masa sekarang saja orang ingin ke Makkah, namun sudah sejak dulu kala. Sebagaimana tergambar dalam surat Al-Fiil, penyerbuan Abrahah ke Makkah untuk menghancurkan Ka'bah adalah karena sejak dulu manusia menjadikan Makkah sebagai tempat berkumpul. Negeri Yaman tempat Abrahah berada menjadi sepi karena kafilah-kafilah dagang lebih memilih untuk datang ke Makkah.

Ayat 126 memuat do'a nabi Ibrahim agar Makkah menjadi negeri yang aman serta diberi rezeki berupa buah-buahan. Salah satu bukti dikabulkannya do'a nabi Ibrahim adalah mudahnya penduduk Makkah untuk memperoleh buah-buahan dari berbagai macam. Ust. Muslim menceritakan bagaimana teman beliau terheran-heran ketika melihat buah durian segar serta buah-buahan lain begitu melimpah di Makkah dengan kondisi segar lagi ranum. Padahal tentunya buah-buahan tersebut tidak mungkin tumbuh di Makkah dan mungkin hanya masuk dengan jalan impor.

Namun semua kemudahan serta kenikmatan tersebut bukanlah tanpa reserve. Lebih lanjut Nabi Ibrahim berdo'a, "yaitu kepada mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian." Allah pun menjawab do'a Nabi Ibrahim bahwa yang kufur hanya diberikan kenikmatan yang sedikit saja. Maka berdasarkan konteks ayat ini, dibenarkan bagi kita dalam berdoa untuk mendoakan kebaikan hanya bagi orang muslim saja. Hal yang wajar apabila kita ingin saudara kita sesama muslim mendapatkan yang terbaik, memperoleh kenikmatan yang besar, dsb. Sebagaimana kita pun pasti ingin diri kita mendapatkan yang demikian.

Ust. Muslim juga menceritakan bahwa ayat ini pun mengisyaratkan adanya orang-orang yang kufur walaupun mereka berada di Makkah. Tidak hanya pada zaman nabi Ibrahim, atau zaman ketika nabi Muhammad hidup, tapi saat ini. Mereka yang setiap harinya berjalan dalam kota yang haram dilalui oleh non muslim namun kufur, mereka yang setiap hari melihat Masjidil Haram namun tidak sholat, ini merupakan kondisi nyata yang terjadi di Makkah saat ini.

Pada ayat 127, ketika Nabi Ibrahim meninggikan Ka'bah beliau berdo'a, "Ya Tuhan kami, terimalah (amal) kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." Pertama bahwa Ka'bah merupakan "rumah purba/baitul 'atiq" yang pondasinya telah ada sebelum zaman Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail hanya diperintahkan untuk meninggikannya sehingga membentuk bangunan. Baitul 'atiq merupakan istilah yang juga digunakan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat yang lain.

Kedua, ayat ini menggambarkan kaidah dalam berdo'a bahwa mohonlah kepada Allah setelah kita berusaha. Sebagaimana Nabi Ibrahim, setelah dia diperintahkan untuk meninggikan Ka'bah dan melaksanakannya, baru beliau berdoa memohon kepada Allah untuk menerima amal/pekerjaan beliau. Seringkali, manusia banyak berdoa meminta kepada Allah untuk memberikannya ini dan itu padahal belum ada satu upaya pun yang ia telah lakukan untuk mencapai tujuannya tersebut. Berdasarkan konteks ayat ini, kita diminta untuk berusaha, lalu berdo'a. Berikhtiar, lalu berdo'a.

Do'a lanjutan Nabi Ibrahim dalam ayat 127 dan 128 bisa kita gunakan dalam do'a sehari-hari, walaupun harus diniatkan dalam konteks yang berbeda. Misalnya, pada ayat 128 beliau berdoa, "Rabbana waj'alna muslimaini laka" artinya Ya Tuhan kami, jadikanlah kami dua orang (Ibrahim dan Ismail) yagn berserah diri kepada-Mu. Kita bisa berdo'a dengan kalimat yang sama namun tentu niatnya menjadi antara kita dan istri/suami, bukan sebagai Ibrahim dan Ismail. Berdasarkan ayat 128 tergambar pula bahwa pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail juga ada syariat manasik. Tidak hanya pada masa Nabi Muhammad saja.

Ayat 129 menggambarkan keinginan Nabi Ibrahim agar ada rasul yang bisa membimbing anak cucunya. Digambarkan pula karakter rasul tersebut, bahwa ia membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan Kitab Allah dan hikmah, serta menyucikan mereka. Para mufassir menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad SAW. Hikmah, seringkali disebutkan dalam Qur'an, maksudnya adalah sunnah. Karakter-karakter yang ada dalam ayat ini juga merupakan tolok ukur bagi kita untuk menilai suatu gerakan ke-Islaman. Gerakan yang baik adalah yang gemar mengajak jama'ahnya untuk membaca Qur'an, serta lebih lanjut mempelajari dan mengkaji ayat-ayat Allah serta sunnah Rasulullah SAW. Juga di dalamnya dilakukan pembersihan jiwa bagi jama'ahnya.

Menanggapi pertanyaan salah seorang jama'ah kajian mengenai pembersihan jiwa, ust. Muslim memaparkan beberapa kiat:
1. Melakukan ziarah kubur, tentunya ziarah kubur yang sesuai syari'at. Tidak dengan membawa sajen atau memberikan uang di kuburan atau memohon sesuatu. Ziarah kubur dalam Islam merupakan salah satu cara mengingatkan kita pada kematian, bahwa kelak kita akan mati pula dan dikuburkan seperti halnya para mayit yang telah dikubur tersebut.
2. Banyak berjalan kaki
3. Membiasakan diri untuk shaum/berpuasa
4. Memakan makanan yang sederhana, tidak berlebih-lebihan

Terakhir, mengenai ayat 130 Allah menyatakan bahwa orang yang membenci agama Ibrahim adalah orang yang memperbodoh diri sendiri. Mengapa dalam ayat ini hanya disebutkan Ibrahim, tidak lagi Ismail? Ini menggambarkan bahwa sebenarnya yang diberikan risalah oleh Allah dan diberi amanat untuk menyampaikan risalah adalah Nabi Ibrahim. Beliau adalah nabi dan rasul. Nabi Ismail hanyalah seorang nabi yang tidak membawa risalah. Nabi terkadang tidak diwajibkan untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya, memiliki kemampuan terbatas. Sebagaimana kisah Nabi Musa dan nabi Harun, ketika Nabi Musa meninggalkan kaumnya selama 40 hari dan memberikan amanah kepada nabi Harun ternyata umatnya melakukan penyimpangan. Sampai-sampai Nabi Musa menarik janggut Nabi Harun untuk menanyakan mengapa sampai kaumnya kemudian manyimpang, Nabi Harun menjawab bahwa ini di luar kemampuannya. Ia tidak mampu untuk melarang.

Allahu a'lam bish showab.

[Publikasi] Happy Ending Ramadhan Buat Si Kecil


Happy Ending Ramadhan Buat Si Kecil
-Kiat Tumbuhkan Kepedulian Sosial Anak di Bulan Ramadhan-
oleh: Dewi Husnul Khotimah (pengamat anak dan keluarga)
note: tulisan ini sudah dikirimkan ke Tribun Kaltim, tapi belum dimuat-muat

Sebentar lagi kita akan memasuki sepuluh hari ketiga dari bulan Ramadhan. Fase yang dijanjikan oleh Allah sebagai fase pembebasan dari api neraka. Pada saat ini pula keluarga muslim mulai sibuk untuk mempersiapkan datangnya Lebaran. Padahal kebiasaan Rasul dalam menyambut akhir Ramadhan adalah menghidupkan malam dengan ibadah. Allah sendiri menjanjikan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, lailatul qadar.

Masyarakat Indonesia sendiri lebih umum menggunakan kata Lebaran daripada Idul Fitri. Konon, akar kata lebaran berawal dari kebiasaan masyarakat dulu yang terbiasa untuk membeli pakaian baru dalam menyambut Idul Fitri. Agar pakaian yang dibeli ini dapat awet dipakai hingga tahun berikutnya, maka pakaian yang dibeli ini ukurannya lebih lebar atau besar. Hal ini terutama terjadi ketika orang tua membelikan pakaian untuk anak-anaknya. Tradisi ini masih berlangsung hingga kini, hingga lama kelamaan Idul Fitri lebih umum disebut sebagai lebaran.

Tradisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh para penggiat ekonomi. Berlomba-lomba toko dan pusat perbelanjaan memberikan potongan harga untuk merangsang daya beli masyarakat yang memang sudah tinggi. Tak pelak lagi, kondisi ini pun membuat anak-anak kita turut terbiasa menuntut pakaian, sepatu atau barang-barang lainnya yang mungkin tidak perlu. Tak jarang masih banyak stok pakaian yang sangat layak pakai di lemari ketika anak kita meminta pakaian baru. Tuntutan anak kita mungkin pula dipicu oleh kebiasaan orang tua menjanjikan hadiah tertentu bagi anak yang mampu menjalankan ibadah puasa. Hadiah sebagai stimulus mungkin dapat dilakukan untuk menumbuhkan semangat pada saat anak masih kecil, namun seiring bertambahnya usia selayaknya orang tua mulai mengajarkan anak untuk mengerjakan puasa demi mencapai keihklasan.

Bagi orang tua yang jeli, Ramadhan merupakan saat yang paling tepat untuk melatih kepedulian sosial anak. Karena pada bulan Ramadhan, selain disyariatkan puasa juga diperintahkan untuk berzakat serta banyak berinfaq shodaqoh. Apalagi saat ini kita dihadapkan dengan berbagai kenaikan harga barang kebutuhan. Belum lagi saudara kita di Kampung Baru yang beberapa waktu lalu terkena musibah kebakaran. Ramadhan tahun ini, benar-benar merupakan saat yang tepat bagi kita untuk mulai berbagi.

Beberapa hal yang perlu diingat oleh kita sebagai orang tua, adalah bahwa Idul Fitri bukan sebuah hari pembebasan yang justru dimaknakan sebagai hari pembebasan dari belenggu Ramadhan. Bukan hanya karena hari itu kita diperbolehkan untuk kembali makan sepuasnya, atau bahkan berbuat sekehendak hati, namun lebih dari itu. Idul Fitri memiliki makna kembali kepada fitrah atau kesucian sehingga tidak selayaknya dikotori dengan berlebih-lebihan dalam makan dan minum maupun ajang pamer bagi jiwa-jiwa mungil dengan busana terkini.

Menghadapi anak yang terbiasa dengan kondisi serba baru pada saat lebaran, orang tua harus memberikan pemahaman makna Idul Fitri kepada anak, bahwa tidak selalu dalam menyambutnya dengan sesuatu yang baru. Tanamkanlah pengertian kepada anak bahwa Ramadhan adalah saat yang tepat untuk berbagi. Luangkanlah waktu untuk berbuka puasa dengan para fakir miskin atau anak2 yatim piatu, atau dengan beranjangsana ke saudara kita di Kampung Baru yang baru tertimpa musibah. Buatlah anak merasakan keberuntungan dirinya dibanding dengan saudara mereka lainnya yang kekurangan. Ini akan membiasakan anak untuk bersyukur dengan apa yang telah dimiliki.

Salah satu kebiasaan kita di bulan Ramadhan dan Idul Fitri adalah berlebihan dalam menyiapkan makanan. Sedikit istimewa mungkin perlu, namun menyediakan berbagai makanan dalam jumlah banyak dapat membuat anak berpikir bahwa Idul Fitri adalah saat untuk makan sepuasnya. Seringkali pada saat hari raya kita mendapati sisa makanan yang tidak sedikit, hingga akhirnya terbuang. Mengantisipasi hal itu, siapkanlah hidangan Idul Fitri sesuai kebutuhan. Apabila rumah kita biasa didatangi oleh sanak keluarga dan kerabat, perhitungkanlah jumlah makanan yang disiapkan secara teliti. Apalagi bila rumah kita jarang didatangi tamu, cukuplah kita persiapkan hidangan dengan jumlah biasa hingga tidak ada kelebihan makanan yang terbuang. Menyiapkan hari Idul Fitri secara sederhana tentu tidak berarti kita menghilangkan nuansa semarak di hati.

Agar anak tidak bosan menunggu waktu berbuka puasa, kita dapat mengajak anak untuk berkreasi menggunakan barang yang tersedia di sekitar. Selain murah dari segi biaya juga merangsang anak untuk berkreasi dengan barang2 yang telah ada atau dengan memodifikasi barang-barang lama yang mulai tidak disukai anak. Misalnya tas lama dapat dimodifikasi dengan memberi pita atau boneka kecil yang dibuat bersama anak. Hasilnya, anak kita memiliki barang yang tampak baru di hari raya dengan biaya rendah.

Kiat terakhir adalah membiasakan untuk tidak membeli pakaian khusus pada bulan Ramadhan atau menjelang Idul Fitri. Salah satu kemuliaan Ramadhan adalah berlipat gandanya balasan atas amal, termasuk amal yang bersifat materi. Selain zakat fitrah, kita dianjurkan pula untuk memperbanyak infaq kepada fakir miskin. Semakin banyak uang yang kita belanjakan untuk membeli pakaian atau kebutuhan sekunder lainnya akan mengurangi jumlah infaq shadaqah yang seharusnya dapat kita keluarkan. Sehingga, semakin berkurang pula kesempatan kita dalam memperoleh balasan pahala yang berlipat ganda.

13 Okt 2005