Friday, September 15, 2006

Alhamdulillah, Dapat Hadiah!


Tak disangka, kemarin sepulang dari kantor (Kamis, 14 Sept) sudah menunggu sebuah paket untuk dibuka. Ternyata hadiah dari Eramuslim.com sudah datang. Hadiah ini saya dapatkan karena berpartisipasi dalam pengisian angket di situs itu. Awalnya justru tidak tahu bahwa masukan yang saya tulis terpilih menjadi salah satu pemenang, tahunya malah dari seorang kawan di sini yang mengirimkan email sebagai ucapan selamat.

Hadiah yang dikirimkan berupa sebuah pulpen yang dilengkapi dengan MP3 player Al Qur'an dan sebuah paket berisi 4 buah buku dari Penerbit Pro-U. Buku yang paling saya suka tentu Inspiring Words For Writer karya Faudzil Adhim, karena terakhir ke Jakarta untuk cari buku ini sudah kehabisan. Alhamdulillah akhirnya rizqi tersebut datang melalui Eramuslim. Tiga buku lainnya saya baca yang penting saja, mengingat ditulis dengan gaya bahasa gaul. Memang buku ini untuk segmen anak muda (ah, sok  tua nih ). Terus terang, sampai sekarang saya paling pusing kalau membaca tulisan dengan gaya bahasa seperti itu.

Jazakumullah khairan katsir pada Eramuslim.com atas hadiah yang dikirimkan. Alhamdulillah koq sampai juga, padahal saya perhatikan nomor rumahnya salah. Harusnya nomor rumah saya 27, tapi tertulis 37. Sekaligus mohon maaf kepada Mbak dari Eramuslim yang menelepon saya dua hari sebelumnya untuk mengkonfirmasi alamat, sengaja saya tidak mengucapkan "Assalamu 'alaikum" ketika mengangkat telepon karena nomornya tidak terdaftar di ponsel saya. Memang ini kebiasaan saya, mengingat kadang ada telepon dari klien yang non muslim. Wajar kalo Mbak tersebut kemudian menutup pembicaraan dengan mengucapkan "Selamat siang"

Semoga Eramuslim makin baik lagi dalam menyajikan informasi yang berpihak pada Islam, dan semoga usulan saya agar arsip tanya jawab ustadz yang sudah lama lewat ditampilkan lagi bisa terwadahi oleh manajemen Eramuslim.


Tuesday, July 25, 2006

[Celoteh] Hilmi's Fight

This afternoon while picking Hilmi up form school, Miss Ida, his English teacher, said to me.
"Hilmi went into a quarrel with Faiz."
"What? How could it be?" I asked. For I know, Faiz was his best friend at kindergarten. Before they join the kindergarten, the two kids often spent time playing together because Faiz's mother is my wife's best friend.

"Ah, it's okay. you know, kids stuff," Miss Ida said.
"They're alright now, already friends again. Right, Faiz?" she asked Faiz who then joined Hilmi. Her mother was next to him prepared to bring him home also.
"Hm," Faiz nodded.

I haven't got the details yet about the fight, but in my opinion, quarrels are not intended to be left alone. They need to be solved. Parents can also have the opportunity to explain Islamic wisdom through this. As a matter of fact, all events circling our children's daily life should be taken to introduce them Islamic teachings.

For example, our prophet said, "Laa taghdhob, wa lakal jannah." You must not be angry, then the paradise will be rewarded to you. This simple hadeets can be taught to our children at early age. Eventually, they will have the ability to communicate their disagreeness or dissapointment without getting angry. Simple, but may be hard for a young child.

Tentang Perselingkuhan


Beberapa bulan lalu saya dan istri mengikuti kajian tentang keluarga sakinah. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai perselingkuhan. Yang pertama adalah perselingkuhan psikologis (psychological affair) dan yang kedua perselingkuhan fisik (physical affair).

"Perselingkuhan fisik, mungkin sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi pada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang gemar mengikuti kajian Islam seperti ini," kata sang ustadz. "Walaupun bisa saja itu terjadi," lanjut beliau. Ada sebuah kasus di mana seorang ibu yang rajin mengaji dan suaminya orang terpandang di perusahaan besar di Balikpapan ini ternyata menyimpan rahasia yang kelam. Suaminya sering mengajak dia ke hotel untuk melakukan threesome (hubungan seks bertiga) dengan gigolo maupun pelacur. Apabila suaminya tidak mau maka istrinya tersebut akan dipaksa atau dipukul. Hingga kadang sang ibu tersimpuh bertahajud sementara suaminya berasyik masyuk dengan pelacur itu di kamar hotel yang sama. Na'uzubillah min dzalik.

Ini kisah nyata. Disampaikan sendiri oleh sang istri kepada ustadz. Sang ustadz pun yang kenal dengan suaminya benar-benar tak percaya bahwa orang yang sepertinya baik dan terpandang bisa melakukan itu.

Lain halnya dengan perselingkuhan psikologis. Jenis perselingkuhan ini biasanya dapat terpelihara lebih lama karena mengandung ikatan emosional yang dalam. "Saya tidak berbicara tentang orang lain, saya berbicara tentang diri saya sendiri," kata ustadz. Sebagai ustadz yang sering berceramah mengenai masalah keluarga, satu ketika datang SMS dari seorang wanita yang ingin meminta pendapat beliau. "Awalnya SMS itu hanya biasa saja, meminta advice. Tapi lama-lama, ada kerinduan juga ketika tidak ada SMS yang tiba," kata beliau.

Setelah sekian SMS, sang wanita meminta untuk bertemu. Jadilah ajang konsultasi itu dilakukan di masjid. Maksudnya agar tidak terjadi ikhtilat. "Tapi ya walaupun dilakukan di masjid yang ramai, tetap saja isi pembicaraan tersebut milik berdua khan?" lanjut ustadz. Tak dinyana, pada sebuah pertemuan sang wanita tadi menyatakan minatnya untuk menjadi istri sang ustadz. "Saya pun sebenarnya tertarik, tapi akal sehat saya mengatakan, tunggulah dulu. Saya harus memikirkan ini," lanjutnya.

Lepas pertemuan dengan sang wanita ini, ustadz pergi untuk sebuah acara lain hingga larut malam. Tidak seperti biasanya, beliau lupa membawa kunci rumah sehingga harus mengetuk pintu untuk membangunkan istri beliau. Setelah membukakan pintu, sambil masih mengantuk istri beliau bertutur, "Abi, Ummi mimpi Abi mau mengenalkan ke Ummi seorang muslimah untuk menjadi istri baru Abi. Tapi Ummi nggak suka."

Blaar..! Terperangahlah sang ustadz mendengar penuturan istrinya. Sementara sang istri melanjutkan tidurnya, ustadz tak bisa tidur. Dipandanginya wajah sang istri yang tidur pulas. Lalu ditengoknya anak-anak yang juga sedang tidur. "Nggak, nggak bisa ini. Kalaupun istri setuju, anak-anak pasti tidak akan bisa menerima," kata batin ustadz berbicara.

Maka diaturlah pertemuan terakhir terakhir dengan wanita tersebut, dan dengan halus ustadz menolak wanita itu. Sang wanita pun menangis, "Tidak apa-apa. Saya mengerti. Paling tidak saya lega karena telah mengungkapkan isi hati saya." Demikian sulitnya melenyapkan bekas kenangan itu hingga butuh 6 bulan sampai akhirnya benar-benar tidak ada lagi perasaan apapun terhadap wanita itu.

"Anda boleh tanya kepada istri saya tentang kisah ini kalau tidak percaya. Istri saya pun tahu karena setelah itu saya bercerita kepadanya," sahut ustadz. Penting untuk bersikap terbuka kepada pasangan kita agar dapat bersama-sama memecahkan masalah yang ada. Dengan mengetahui masalah yang kita hadapi, istri akan dapat membantu kita. Meluangkan waktu bersama, melakukan kegiatan bersama, dan sebagainya.

Melalui kasus tersebut, terlihat bahwa batas antara kasihan, simpati, dan cinta itu amat tipis. Tindakan awal kita untuk memicu psychological affair mungkin pada mulanya diawali dari rasa kasihan. Semakin sering kita berinteraksi maka timbul simpati. Lalu akhirnya tumbuh benih cinta.

Tak heran Allah sendiri berfirman, "Laa taqrabuz zina," jangan dekati zina. Mirip juga seperti perintah Allah kepada Nabi Adam as, "Laa taqrabu hadzihisy syajarah," jangan kamu dekati pohon itu. Mengapa dilarang untuk mendekati? Mengapa Allah tidak langsung melarang saja? Janganlah kamu berzina, misalnya. Atau memerintahkan kepada Nabi Adam as jangan kamu makan buah itu, misalnya. Karena larangan langsung akan memicu rasa keingintahuan manusia.

"Kalau tidak boleh memakan buahnya, melihat saja boleh khan?"
"Kalau tidak boleh memakan buahnya, memegang pohonnya boleh khan? Yang penting khan tidak dimakan."
"Kalau hanya membelai daunnya, boleh khan? Saya tahu tidak boleh dimakan buahnya, tapi saya hanya ingin membelai daunnya."
"Saya cuma ingin pegang buahnya koq, tidak akan saya makan. Saya tahu itu tidak boleh dimakan."
Akhirnya, hap. Habislah buah itu dimakannya.

Multiply, bisa jadi mengundang potensi ini juga. Berawal dari berbagi kisah, suka maupun duka. Berlanjut pada komentar simpatik yang diberikan. Selanjutnya, personal message dilayangkan. Akhirnya, berkembanglah simpati menjadi cinta. Jadi? Bijaksanalah dalam bersikap, dan jangan malu-malu untuk berbagi masalah kepada pasangan hidup kita, suami maupun istri. Sebelum masalah berkembang, lebih baik diselesaikan sejak dini.

[Adhika Bayu Pratyaksa-Dewi Husnul Khotimah]



Tuesday, July 11, 2006

Banjir di Balikpapan


Banyak warga yang nggak mau pergi dari rumahnya, walaupun banjir sudah setinggi dada orang dewasa.

Ahad 26/6/2006 sampai Rabu beberapa daerah di Balikpapan kedatangan banjir. Salah satu daerah yang terkena adalah di Gg. al-Makmur dekat PDAM Damai. Walaupun tidak sempat merekam karena kamera sedang dipinjam seorang ikhwah, kebetulan ini ada beberapa foto dari ikhwah Telkom, mas Arief. Alhamdulillah ibu-ibu DPC Selatan (kalau bapak-bapaknya nggak bisa karena kerja) sempat mengantarkan bantuan makanan ke sana.

Tuesday, July 4, 2006

Sang Kuncen Masjid Nusantara

http://bambangsb.blogspot.com
Kuncen (juru kunci) Masjid Nusantara, itu julukan yang tercantum di halaman webnya. Memang jejak penelitian beliau mengenai masjid-masjid di nusantara sudah banyak, yang paling monumental mungkin proyek CD Masjid2000. Melalui CD ini Pak Bambang Setia Budi dan Pak M. Ichsan menggalang para mahasiswa arsitektur ITB (salah satunya temanku, Uut) untuk melakukan pendataan terhadap 90.000-an masjid, untuk kemudian berhasil menyaring sekitar 120 masjid di Pulau Jawa dan menyajikannya dalam bentuk CD interaktif. Display keluasan ilmu beliau bisa dilihat di bambangsb.blogspot.com, kota-humanis.blogspot.com, serta www.bsb.in

Monday, July 3, 2006

Bina-ul Barakah

http://bina-ul-barakah.blogspot.com
Talian laman ini milik seorang kawan yang sedang studi S2 arsitektur di Jerman, Muhammar Khamdevi. Cita-citanya ingin membuat Khamdevi's Standart of Islamic Architecture, sebuah panduan standar teknis dalam merancang bangunan yang sejalan dengan prinsip Islam. (Ket: Panduan yang biasa dipakai oleh para mahasiswa arsitektur dalam merancang adalah Neufert's Standarts of Architecture.)

[Tafsir] Kajian Tafsir Ibnu Katsir

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Ust. Muslim Gunawan
disarikan dari Kajian Tafsir di Masjid Nurul Haq, Komp. Pertamina Gn. Pipa setiap malam Rabu, ba'da maghrib-isya. Narasumber: Ust. Muslim Gunawan Ilham, MA.

[Al Baqarah 125-130]


Ayat 125 menjelaskan rahasia di balik suasana aman dan tentram yang selalu tercipta di Makkah. Selain dari tingkat kejahatan yang rendah, larangan dari hadits Rasul untuk membunuh binatang dan memotong tanaman di Makkah, juga terlebih lagi adalah karena janji Allah sendiri untuk menjadikannya sebagai tempat yang aman. Juga Allah-lah yang menjadikan hati manusia untuk condong, untuk merasa ingin pergi ke Makkah. Tidak hanya pada masa sekarang saja orang ingin ke Makkah, namun sudah sejak dulu kala. Sebagaimana tergambar dalam surat Al-Fiil, penyerbuan Abrahah ke Makkah untuk menghancurkan Ka'bah adalah karena sejak dulu manusia menjadikan Makkah sebagai tempat berkumpul. Negeri Yaman tempat Abrahah berada menjadi sepi karena kafilah-kafilah dagang lebih memilih untuk datang ke Makkah.

Ayat 126 memuat do'a nabi Ibrahim agar Makkah menjadi negeri yang aman serta diberi rezeki berupa buah-buahan. Salah satu bukti dikabulkannya do'a nabi Ibrahim adalah mudahnya penduduk Makkah untuk memperoleh buah-buahan dari berbagai macam. Ust. Muslim menceritakan bagaimana teman beliau terheran-heran ketika melihat buah durian segar serta buah-buahan lain begitu melimpah di Makkah dengan kondisi segar lagi ranum. Padahal tentunya buah-buahan tersebut tidak mungkin tumbuh di Makkah dan mungkin hanya masuk dengan jalan impor.

Namun semua kemudahan serta kenikmatan tersebut bukanlah tanpa reserve. Lebih lanjut Nabi Ibrahim berdo'a, "yaitu kepada mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian." Allah pun menjawab do'a Nabi Ibrahim bahwa yang kufur hanya diberikan kenikmatan yang sedikit saja. Maka berdasarkan konteks ayat ini, dibenarkan bagi kita dalam berdoa untuk mendoakan kebaikan hanya bagi orang muslim saja. Hal yang wajar apabila kita ingin saudara kita sesama muslim mendapatkan yang terbaik, memperoleh kenikmatan yang besar, dsb. Sebagaimana kita pun pasti ingin diri kita mendapatkan yang demikian.

Ust. Muslim juga menceritakan bahwa ayat ini pun mengisyaratkan adanya orang-orang yang kufur walaupun mereka berada di Makkah. Tidak hanya pada zaman nabi Ibrahim, atau zaman ketika nabi Muhammad hidup, tapi saat ini. Mereka yang setiap harinya berjalan dalam kota yang haram dilalui oleh non muslim namun kufur, mereka yang setiap hari melihat Masjidil Haram namun tidak sholat, ini merupakan kondisi nyata yang terjadi di Makkah saat ini.

Pada ayat 127, ketika Nabi Ibrahim meninggikan Ka'bah beliau berdo'a, "Ya Tuhan kami, terimalah (amal) kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." Pertama bahwa Ka'bah merupakan "rumah purba/baitul 'atiq" yang pondasinya telah ada sebelum zaman Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail hanya diperintahkan untuk meninggikannya sehingga membentuk bangunan. Baitul 'atiq merupakan istilah yang juga digunakan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat yang lain.

Kedua, ayat ini menggambarkan kaidah dalam berdo'a bahwa mohonlah kepada Allah setelah kita berusaha. Sebagaimana Nabi Ibrahim, setelah dia diperintahkan untuk meninggikan Ka'bah dan melaksanakannya, baru beliau berdoa memohon kepada Allah untuk menerima amal/pekerjaan beliau. Seringkali, manusia banyak berdoa meminta kepada Allah untuk memberikannya ini dan itu padahal belum ada satu upaya pun yang ia telah lakukan untuk mencapai tujuannya tersebut. Berdasarkan konteks ayat ini, kita diminta untuk berusaha, lalu berdo'a. Berikhtiar, lalu berdo'a.

Do'a lanjutan Nabi Ibrahim dalam ayat 127 dan 128 bisa kita gunakan dalam do'a sehari-hari, walaupun harus diniatkan dalam konteks yang berbeda. Misalnya, pada ayat 128 beliau berdoa, "Rabbana waj'alna muslimaini laka" artinya Ya Tuhan kami, jadikanlah kami dua orang (Ibrahim dan Ismail) yagn berserah diri kepada-Mu. Kita bisa berdo'a dengan kalimat yang sama namun tentu niatnya menjadi antara kita dan istri/suami, bukan sebagai Ibrahim dan Ismail. Berdasarkan ayat 128 tergambar pula bahwa pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail juga ada syariat manasik. Tidak hanya pada masa Nabi Muhammad saja.

Ayat 129 menggambarkan keinginan Nabi Ibrahim agar ada rasul yang bisa membimbing anak cucunya. Digambarkan pula karakter rasul tersebut, bahwa ia membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan Kitab Allah dan hikmah, serta menyucikan mereka. Para mufassir menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad SAW. Hikmah, seringkali disebutkan dalam Qur'an, maksudnya adalah sunnah. Karakter-karakter yang ada dalam ayat ini juga merupakan tolok ukur bagi kita untuk menilai suatu gerakan ke-Islaman. Gerakan yang baik adalah yang gemar mengajak jama'ahnya untuk membaca Qur'an, serta lebih lanjut mempelajari dan mengkaji ayat-ayat Allah serta sunnah Rasulullah SAW. Juga di dalamnya dilakukan pembersihan jiwa bagi jama'ahnya.

Menanggapi pertanyaan salah seorang jama'ah kajian mengenai pembersihan jiwa, ust. Muslim memaparkan beberapa kiat:
1. Melakukan ziarah kubur, tentunya ziarah kubur yang sesuai syari'at. Tidak dengan membawa sajen atau memberikan uang di kuburan atau memohon sesuatu. Ziarah kubur dalam Islam merupakan salah satu cara mengingatkan kita pada kematian, bahwa kelak kita akan mati pula dan dikuburkan seperti halnya para mayit yang telah dikubur tersebut.
2. Banyak berjalan kaki
3. Membiasakan diri untuk shaum/berpuasa
4. Memakan makanan yang sederhana, tidak berlebih-lebihan

Terakhir, mengenai ayat 130 Allah menyatakan bahwa orang yang membenci agama Ibrahim adalah orang yang memperbodoh diri sendiri. Mengapa dalam ayat ini hanya disebutkan Ibrahim, tidak lagi Ismail? Ini menggambarkan bahwa sebenarnya yang diberikan risalah oleh Allah dan diberi amanat untuk menyampaikan risalah adalah Nabi Ibrahim. Beliau adalah nabi dan rasul. Nabi Ismail hanyalah seorang nabi yang tidak membawa risalah. Nabi terkadang tidak diwajibkan untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya, memiliki kemampuan terbatas. Sebagaimana kisah Nabi Musa dan nabi Harun, ketika Nabi Musa meninggalkan kaumnya selama 40 hari dan memberikan amanah kepada nabi Harun ternyata umatnya melakukan penyimpangan. Sampai-sampai Nabi Musa menarik janggut Nabi Harun untuk menanyakan mengapa sampai kaumnya kemudian manyimpang, Nabi Harun menjawab bahwa ini di luar kemampuannya. Ia tidak mampu untuk melarang.

Allahu a'lam bish showab.