Tuesday, February 26, 2008

Lahan Kampus Sekolah Alam Balikpapan




(Foto diambil awal Februari)
Lokasi Kampus Sekolah Alam ini terletak di samping Markas POLDA Kalimantan Timur. Kalau pada foto, Mapolda terlihat di sebelah kanan dari lahan. Lokasi ini hanya berjarak sekitar 10 menit dari Bandara Sepinggan dan 5 menit dari Balikpapan Dome.

Selain itu, lokasi kampus juga dikelilingi oleh banyak perumahan. Di antaranya adalah Balikpapan Baru, Kompleks WIKA, Balikpapan Regency, Sepinggan Pratama, RSS Gn. Bahagia, Komp. Korpri, dan beberapa perumahan lain yang lebih kecil.

Vegetasi di lokasi kampus cukup beragam, mayoritas adalah tanaman keras dengan ketinggian lebih dari 10 meter. Dengan kata lain, lahan ini adalah hutan. Benar-benar hutan alami. Sumber air yang terletak di lahan juga cukup jernih, tidak terlalu "berkarat" atau berkadar besi tinggi seperti umumnya air di Balikpapan.

Saat ini, tim Sekolah Alam Balikpapan masuk pada tahap pembersihan lahan dan menandai mana pohon yang akan dikurangi. Walaupun kondisi hutan cukup rapat, semoga saja tidak banyak pohon yang harus kami tebang.

Rekrutmen Fasilitator (Guru) Sekolah Alam Balikpapan

Assalamu 'alaikum warahmatullah...

Laju kerusakan lingkungan hidup saat ini makin berada pada taraf yang mengkhawatirkan. Mulai tahun 1999, sekelompok penggerak pendidikan yang peduli lingkungan di Jakarta mencetuskan ide Sekolah Alam sebagai upaya memberikan pendidikan terintegrasi yang berbasis lingkungan hidup.

Yayasan Hijau Borneoku sebagai pihak yang telah memperoleh lisensi dari para pendiri Sekolah Alam Jakarta merencanakan untuk mendirikan Sekolah Alam Balikpapan. Balikpapan yang sedang menggiatkan Gerakan Hijau, Bersih, dan Sehat (Green, Clean, and Healthy) sangat sesuai sebagai tempat penyelenggaran sekolah alam yang memang selalu berupaya menjaga lingkungan hidup.

Untuk itu, kami dari Yayasan Hijau Borneoku sedang membuka rekrutmen guru untuk Sekolah Alam Balikpapan.

Rekrutmen Fasilitator (Guru)

Persyaratan:
1. Pria/wanita berakhlak Islami
2. Menjadikan al Islam debagai manhaj hidup
3. Open minded dan pembelajar
4. Mencintai al Quran dan Gemar menghapalkannya
5. Minimal S1, diutamakan dari jurusan sains dan teknologi
6. Berbahasa Inggris aktif

CV dan lamaran harap dikirimkan maksimal 6 Maret 2008 ke:
Jln. Syarifudin Yoes RT75 No.10
Kel. Gn. Bahagia
Balikpapan, Indonesia.

(dimuat juga di Harian Tribun Kaltim)

Sunday, February 17, 2008

Segera Dibuka: Sekolah Alam Balikpapan

Sekolah Alam digagas oleh Lendo Novo dan pertama kali didirikan pada tahun 1999 di Ciganjur, Jakarta Selatan dengan nama Sekolah Alam Ciganjur. Sekolah ini memadukan antara kurikulum Diknas, Depag, dan kurikulum khas Sekolah Alam.

Dalam perkembangannya konsep ini diadopsi di tempat-tempat lain baik di Jakarta sendiri maupun kota-kota lain seperti Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, hingga ke Papua.

Yayasan Hijau Borneoku alhamdulillah telah memperoleh lisensi dari tim penggagas sekolah alam yang kini mengoperasikan School of Universe (SoU) Parung untuk mendirikan Sekolah Alam Balikpapan. Para pendiri yayasan yang telah berpengalaman mengelola TK Alam Jabalussalam selama 3 tahun terakhir ini dinyatakan berhasil lolos dalam penilaian yang dilakukan oleh tim dari SoU.

Sekolah Alam Balikpapan insya Allah akan segera beroperasi mulai tahun ajaran 2008/2009 mendatang. Walaupun hari ini pendaftaran secara resmi baru dibuka, namun sudah ada beberapa komitmen dari orang tua untuk menyekolahkan putera/puterinya di SA Balikpapan.

Ahad kemarin (17/2), Sekolah Alam mengadakan acara Pemaparan Publik di Ruang Training Center TELKOM Divre Kalimantan. Acara pemaparan publik walaupun hanya dihadiri oleh sekitar 20 orang namuan berhasil mengumpulkan dana bagi proses pembangunan.

Lokasi SA Balikpapan terletak tepat di samping Markas POLDA Kaltim. Lokasi ini selain terjamin dari faktor keamanan juga dikelilingi oleh berbagai perumahan seperti Balikpapan Regency, Sepinggan Pratama, WIKA, dan Balikpapan Baru. (bay)

Monday, December 17, 2007

Menerbangkan Layang-Layang Kita

Saya menikah di usia yang cukup muda, 22 tahun. Tepat setahun setelah pernikahan, lahir anak pertama kami, Hilmi namanya. Sebagai pasangan yang baru dikaruniai anak, kami banyak menimba ilmu dari kawan-kawan yang telah lebih dahulu menikah. Satu petuah yang masih saya ingat dalam benak adalah ucapan dari salah seorang kawan. Ia cukup aktif dalam kegiatan dakwah di kota pelajar di Jawa Timur tempat kami tinggal dulu.

"Anak itu jangan dibiarkan terlalu dekat dengan kita. Apabila terlalu dekat, suatu ketika kita harus pergi bisa-bisa anak akan nggandoli kita karena terlalu lengket. Nah, kegiatan kita jadi terhambat khan..," begitu kira-kira ucapan beliau saat itu.

Spontan saya berpikir dalam hati, apabila anak tidak dekat dengan orang tuanya, mau dekat dengan siapa lagi?!

Lain lagi dengan kisah berikut ini. Sandi adalah seorang anak yang dekat dengan ibunya. Maklum, ayahnya telah meninggal dunia sejak Sandi berusia remaja. Merasa sangat berhutang budi kepada ibunya, Sandi berusaha sekuat tenaga untuk dapat membahagiakan sang ibu. Setelah bekerja, hampir seluruh penghasilannya ia kirimkan untuk membantu ibu dan adik-adiknya.

Kebiasaan ini tak berkurang setelah ia menikah, bahkan setelah ia memiliki anak. Masalahnya, ketika penghasilannya terkuras untuk membantu ibu dan adik-adiknya, ia berpaling kepada penghasilan sang istri yang kebetulan juga bekerja. Apabila sang istri menolak untuk memberikan, maka Sandi akan marah besar. Akibatnya, rumah tangga mereka menjadi panas.

Dua kisah yang berbeda. Yang pertama, di orang tua yang tidak ingin dekat dengan anak. Kedua, anak yang terlalu dekat dengan figur orang tua. Keduanya meninggalkan jejak tersendiri dalam benak saya tentang cara mendidik anak.

Bagaikan bermain layang-layang, begitulah kita mendidik anak. Kita harus tahu kapan harus menarik atau mengulur benangnya. Apabila tepat, tentu akan makin tinggi ia terbang. Namun apabila kita terus menerus menarik benangnya, bisa-bisa tak kunjung ia terbang meninggi.

Membuat anak berhasil, memang butuh banyak "tarikan" di awalnya. Perlahan, tarikan itu pasti akan kita kurangi, hingga lama-kelamaan meninggi ia mengangkasa. Tak usahlah takut, walau ia mengangkasa hingga jauh dari pandangan, yakinlah bahwa selalu ada benang yang menghubungkan antara hatinya dengan hati kita. (Adhika Bayu P.)

Ilustrasi diambil dari http://www.kckpl.lib.ks.us/

Back to MP

Lama juga ternyata kami absen dari situs blog ini. Kesibukan banyak banget sih, mau tak mau MP harus ditempatkan di prioritas ke sekian.

Tapi dipikir-pikir, sekalian untuk schock therapy aja kali ya. Menjauhkan diri secara drastis dari sesuatu, agar kita tidak merasa kehilangan yang teramat sangat ketika lepas darinya.

Jangan-jangan, pernah terbetik di benak kita akan posting yang belum di-reply di dalam sholat kita? Na'udzubillah min dzaalik...

Monday, June 25, 2007

Meeting at SMP KPS Balikpapan

Start:     Jun 26, '07 10:00a
End:     Jun 26, '07 12:45p
Location:     SMP KPS, Lap. Merdeka, Balikpapan
Survei lokasi redesain interior beberapa ruangan di SMP KPS.

Friday, June 15, 2007

Belajar dari keluarga Mutammimul Ula




Slide power point ini bertutur tentang keluarga Pak Tamim (begitu beliau biasa disapa), seorang anggota DPR RI dari PKS. Melihat begitu banyak prestasi beliau dan istri dalam mendidik anak, jadi sediih rasanya. Dengan kesibukan yang masih belum seberapa dibanding Pak Tamim, sepertinya kami koq masih belum bisa mengarahkan anak-anak secara maksimal menuju fitrah keislamannya.

Maafkanlah kami ya Allah, dan ringankanlah langkah kami dalam mendidik anak-anak kami...