Showing posts with label celoteh. Show all posts
Showing posts with label celoteh. Show all posts

Monday, July 3, 2006

[Celoteh] Kadoku Toys, Mainan Edukasi

Di tengah banjirnya produk mainan dari Cina, alhamdulillah masih ada
produsen Indonesia yang membuat mainan edukasi berbahan kayu. Awalnya,
ketika Lebaran lalu pulang ke Jakarta kami berusaha mencari mainan
edukasi untuk Hilmi dan Hanif. Mainan yang bisa merangsang kemampuan
motorik, sensorik, dan koordinasi. Mainan yang mengajarkan pengenalan
warna dan huruf. Berhubung Haula Toys dan Sofia Toys masih tutup karena
libur Lebaran, kami pulang dengan tangan kosong.

Akhirnya
kami coba ke Toys R Us di Pasaraya Blok M. Ada sih, satu dua. Tapi
masih belum sesuai dengan yang kami harapkan. Hari Sabtu, menjelang
pulang, tak sengaja kami melihat Success Story di TV7. Kebetulan yang
dimuat adalah profil Kadoku Toys, salah satu produsen mainan edukasi
berbahan kayu. Sayang, berhubung Ahad pagi kami sudah harus kembali ke
Balikpapan kami tak sempat lagi untuk melacak alamatnya.

Berbekal
penuturan narator di Success Story yang menyatakan bahwa Kadoku Toys
juga punya website, Dhika mulai mencari di Internet. Alhamdulillah,
berhasil menemukan email Mas Dhanang, pemilik Kadoku. Alhamdulillah
juga berhasil menemukan web address Kadoku. Sayangnya, web sedang dalam
pemeliharaan. Kontak via email pun tak kunjung mendapat balasan. Selang
sekian minggu, kembali mencoba untuk akses website Kadoku,
alhamdulillah sudah bisa diakses. Namun tetap saja email tak berbalas.
Langkah terakhir, telepon ke 108 Jakarta untuk tanya nomor telepon
Kadoku. Alhamdulillah berbuah hasil.

Kebetulan
lagi, dua minggu setelah kami telepon ke Kadoku Jakarta Mas Dhanang
berkunjung ke Balikpapan atas undangan Dinas Perindustrian setempat
untuk mengisi pelatihan kewirausahaan. Selama seminggu itu kami sering
berkunjung dan Dewi pun berkesempatan untuk menjadi peserta di
pelatihan tersebut. Selama pelatihan kami melihat bahwa memang proses
produksi Kadoku benar-benar memperhatikan faktor keamanan bagi anak.
Desain yang memudahkan untuk dipegang, setiap ujung dibuat tumpul,
penggunaan cat yang tidak beracun, pemilihan warna yang menarik,
membuat produk ini memperoleh sertifikasi dari Sucofindo.

Alhamdulillah,
setelah menggunakan mainan-mainan produk Kadoku Hilmi dan Hanif pun
mengalami kemajuan pesat. Hilmi kini lebih mudah untuk mengingat
kata-kata sulit, koordinasi tangannya pun lebih cakap sehingga tak lagi
sering menumpahkan air. Dulu, air adalah musuh utamanya, setiap
memegang gelas atau berada di dekat gelas, bisa dipastikan air tersebut
akan tumpah. Mengenalkan warna pun lebih mudah dengan adanya mainan
edukasi ini. Demikian pula dengan daya konsentrasi, alhamdulillah bisa
meningkat. Hilmi tak lagi seperti "kutu loncat".

Berbagai
produk Kadoku Toys mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Ada yang
mengenalkan warna, huruf, dan angka. Ada yang melatih motorik sendorik
serta imajinasi. Namun biasanya sebuah produk memiliki beberapa fungsi
yang berbeda, terintegrasi dalam satu produk mainan. Tak heran produk
ini juga cocok untuk melatih konsentrasi dan koordinasi syaraf bagi
anak yang menderita autis.

Menurut Mas Dhanang, Kadoku didirikan
agar setiap anak bisa mendapatkan mainan edukasi di rumahnya. Selama
ini mainan edukasi hanya bisa didapat di TK/SD, tidak dijual umum.
Kini, produk Kadoku Toys bisa didapat di Gramedia terdekat, atau bisa
juga langsung datang ke kantor dan showroomnya di Jalan Paseban, Senen.
Produk ini juga sudah diekspor ke Singapura. Untuk teman-teman sekalian
yang membutuhkan, silakan lihat dulu websitenya di www.kadoku-toys.com.

[Celoteh] Jatuh Lagi

Pagi ini, ketika aku sedang bersalin pakaian..



Dug! Disahut dengan tangisan keras dari Hilmi, anak sulung kami.
Rupanya ia terjatuh dari tempat tidur saat sedang menggeliat. Soalnya
dia punya kebiasaan buruk sih, kalau tidur tak bisa jauh dari kipas
angin. Maka, ketika membangunkannya dari tidur pun cukup mudah, matikan
saja kipas angin dan dia pun pasti terbangun. Begitu pula pagi ini,
mungkin ketika aku mandi bundanya Hilmi sengaja mematikan kipas angin.
Kuhampiri ia segera, istriku pun berlari mendengar tangisannya. Benjol
kepalanya sebesar telur puyuh di sebelah kiri.



Khawatir? Tentu, karena ini sudah kesekian kalinya Hilmi terbentur di kepala. Geli? Agak sih...

Walau berbagai benturan tersebut membuat kami was was, alhamdulillah
berkat izinnya Hilmi tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ia mudah mencerna
kejadian yang ada di sekitarnya. Respon verbal dan motoriknya pun cukup
maju bagi anak seusianya. Kekurangannya satu, daya konsentrasi yang
rendah. Tapi insya Allah kami terus mengupayakan untuk melatihnya.



Terkadang kami heran juga, mengapa ia bisa tumbuh dengan daya kritis
yang cukup besar. Padahal sejak kecil Hilmi adalah anak yang sulit
makan (picky eater). Keengganan Hilmi untuk makan terkadang bertahan
hingga dua hari. Akibat sampingan dari kebiasaannya itu, sembelit
menjadi penyakit langganan, dan microlax menjadi obat yang harus selalu
tercantum dalam daftar belanja kami. Sebagaimana anak lain yang sulit
makan, Hilmi pun sering sakit. Bak terjadwal tetap, penyakit datang
secara berkala. Wajar bukan? Tak mau makan, daya tahan tubuh rendah,
maka tubuh rentan terserang penyakit. Walau begitu, tetap saja Hilmi
tumbuh sebagai anak yang aktif bergerak, penuh celoteh, dan rajin
bertanya pada ayah bundanya.



Alhamdulillah, sekitar 3 bulan ini selera makannya membaik. Awalnya
kami mencoba memberikan Pediasure agar gizinya membaik. Lama kelamaan
selera makannya pun normal, tak lagi sesulit dulu.



Terkadang timbul keinginan untuk membawa Hilmi melakukan pemeriksaan
otak (CT-scan). Namun biaya CT-scan di Balikpapan ternyata cukup tinggi
dibanding ketika kami di Jakarta atau Malang dulu. Kami tak ingin
kejadian demi kejadian yang dia alami menganggu kesehatannya kelak.
Sejauh ini, berdasar pengamatan perilaku dan fisik alhamdulillah Hilmi
masih sehat. Tidak ada keluhan sering pusing, atau muntah, atau sering
marah tanpa sebab. Moga Allah tetap memberi kesehatan padanya.

[Celoteh] Ooh, Ternyata Aku Tinggal di Kalimantan


Alhamdulillah, nikmatnya tinggal di Balikpapan adalah ketenangan
suasana kota kecil yang dihiasi dengan kemudahan teknologi modern.
Istilahnya, Kalimantan itu nggak terbelakang amat, gitu loh.
Nggak jauh beda dengan Malang lah, kota tempat kami tinggal dulu. Mau
ke toko buku dekat, pusat perbelanjaan dekat, tempat kerja dekat.



Satu pagi di hari kerja telepon berbunyi. Ternyata telepon dari bapakku di Jakarta yang ingin berbicara dengan bapak mertua.

"Wah, Bapak lagi jogging Pak," jawabku.

"Lho, emang nggak kerja? Koq pagi-pagi jogging?"

"Ya, kerja. Tapi khan masih nanti. Paling berangkat jam tujuh atau tujuh seperempat."

"Haha, enak donk! Sebelum kerja masih bisa jogging."

Tahu sendiri khan suasana Jakarta. Daerah rumah orang tuaku di Ciganjur
yang dulu tempat jin buang anak pun kini selalu macet di pagi hari.
Keluar rumah jam enam lewat sedikit, pasti akan terjebak kemacetan
sampai Cilandak, Ragunan, hingga Buncit. Jadi nggak ada cerita deh, di
Jakarta bisa jogging dulu sebelum kerja.



Ada lagi satu cerita dari teman istriku. Pertama datang ke Balikpapan
dengan kapal laut. Karena ingin mencari suvenir, ia pun bertanya jalan
ke orang yang ia temui.

"Pak, kalau cari suvenir di mana ya?"

"Keluar pelabuhan aja, lalu naik taksi ke daerah Kebun Sayur. Paling cuma 15 menit."

"Selain taksi nggak bisa Pak? Nggak ada angkutan kota aja?"

Orang yang ditanya terdiam sejenak, lalu menyahut,

"Dek, di sini angkutan kota namanya taksi. Kalo mau naik taksi beneran, namanya taksi argo!"



Dalam perjalanan ke Kebun Sayur pun ia masih terheran-heran dengan
suasana Balikpapan. Sebelah kiri terhampar kilang minyak Pertamina,
sementara di kanan jalan masih hutan lebat.

"Ooh, ternyata Kalimantan itu benar-benar hutan ya?!" serunya dalam
hati. Jelas saja, karena dia melewati hutan lindung dalam Kompleks
Pertamina. Coba kalau lewat kota, pasti akan melewati kota yang hiruk
pikuknya tak kalah dengan kota ukuran menengah di Jawa.



Seorang kawan yang kini anggota legislatif di DPRD Balikpapan pun punya
cerita lain. Awal kuliah di Jakarta, teman-temannya menganggap ia
sebagai orang kaya karena setiap kali ditanya oleh temannya kendaraan
apa yang ia naiki ke kampus ia selalu menjawab taksi!

"Ke kampus naik apa San?" tanya kawannya.

"Naik taksi."



Dua bulan lalu istriku diminta untuk melakukan psikotes di Berau.
Awalnya akan naik pesawat langsung ke Berau, tapi ternyata menjelang
keberangkatan penerbangannya dibatalkan karena masalah teknis.
Terpaksalah ia terbang ke Tarakan. Penerbangan memakan waktu 2 jam.
Dari Tarakan bersama dua orang akhwat lainnya melanjutkan perjalanan ke
Tanjung Selor menggunakan speed boat kecil. Kebayang khan, 2 jam
terbanting-banting di air. Apalagi sama sekali belum pernah melewati
rute tersebut, perjalanan jadi terasa lebih lama.



Tiba di Tanjung Selor ternyata masih harus menyambung lagi dengan naik
mobil selama 2 jam untuk menuju Berau. Kondisi jalan memang mulus, tapi
naik turun bukit yang cukup tinggi. Sepanjang jalan sinar matahari
hanya masuk lewat sela-sela kanopi pohon besar lagi tinggi. Terkadang
melewati perkampungan suku Dayak. Beberapa kali melewati rombongan
beberapa orang suku Dayak membawa busur panah atau sumpit sambil
menggendong hasil buruan.



Tak sadar terucap dari mulutnya, "Ooh, ternyata aku tinggal di Kalimantan beneran ya."

Seluruh penumpang di mobil tertawa mendengar ucapannya.

30 Sept 2005



[Celoteh] Mencari Ridho Allah


"Bunda mau ke mana? Mau kerja ya?" celoteh Hilmi pagi itu.

"Iya Mas, Bunda mau kerja dulu. Insya Allah nanti sore kita main lagi," sahut istriku.

"Bunda kerja mau cari ridho Allah?"

Langkahku terhenti sejenak, sambil menatapnya dengan mata berkaca aku menyahut,

"Iya Mas, insya Allah Bunda akan mencari ridho Allah."

"Ayah juga? Ayah kerja? Cari ridho Allah?" tanyanya lagi.

"Iya, insya Allah," jawabku sambil memeluknya. Erat.



Tak akan pernah kulupa pagi itu, dan pagi berikutnya ketika ia
mengucapkan hal yang sama. Kalimat itu laksana penyemangat dan
pengingat bagi kami, bahwa setiap langkah kami menuju tempat
beraktivitas adalah untuk mencari keridhoan-Nya semata.



Terima kasih Mas Hilmi, atas pengingatmu kepada kami. Insya Allah, setiap langkah kami niatkan untuk mencari ridho-Nya.

26 Jul 2005