"Anak itu jangan dibiarkan terlalu dekat dengan kita. Apabila terlalu dekat, suatu ketika kita harus pergi bisa-bisa anak akan nggandoli kita karena terlalu lengket. Nah, kegiatan kita jadi terhambat khan..," begitu kira-kira ucapan beliau saat itu.
Spontan saya berpikir dalam hati, apabila anak tidak dekat dengan orang tuanya, mau dekat dengan siapa lagi?!
Lain lagi dengan kisah berikut ini. Sandi adalah seorang anak yang dekat dengan ibunya. Maklum, ayahnya telah meninggal dunia sejak Sandi berusia remaja. Merasa sangat berhutang budi kepada ibunya, Sandi berusaha sekuat tenaga untuk dapat membahagiakan sang ibu. Setelah bekerja, hampir seluruh penghasilannya ia kirimkan untuk membantu ibu dan adik-adiknya.
Kebiasaan ini tak berkurang setelah ia menikah, bahkan setelah ia memiliki anak. Masalahnya, ketika penghasilannya terkuras untuk membantu ibu dan adik-adiknya, ia berpaling kepada penghasilan sang istri yang kebetulan juga bekerja. Apabila sang istri menolak untuk memberikan, maka Sandi akan marah besar. Akibatnya, rumah tangga mereka menjadi panas.
Dua kisah yang berbeda. Yang pertama, di orang tua yang tidak ingin dekat dengan anak. Kedua, anak yang terlalu dekat dengan figur orang tua. Keduanya meninggalkan jejak tersendiri dalam benak saya tentang cara mendidik anak.
Bagaikan bermain layang-layang, begitulah kita mendidik anak. Kita harus tahu kapan harus menarik atau mengulur benangnya. Apabila tepat, tentu akan makin tinggi ia terbang. Namun apabila kita terus menerus menarik benangnya, bisa-bisa tak kunjung ia terbang meninggi.
Membuat anak berhasil, memang butuh banyak "tarikan" di awalnya. Perlahan, tarikan itu pasti akan kita kurangi, hingga lama-kelamaan meninggi ia mengangkasa. Tak usahlah takut, walau ia mengangkasa hingga jauh dari pandangan, yakinlah bahwa selalu ada benang yang menghubungkan antara hatinya dengan hati kita. (Adhika Bayu P.)
Ilustrasi diambil dari http://www.kckpl.lib.ks.us/