Ba'da maghrib, terpaksa SENKAI (Sentra Kegiatan Anak Islam) di langgar dekat rumah kami liburkan. Mati lampu sih, kasihan anak-anak kalau dipaksa beraktivitas hanya bermodal emergency lamp.
Menginjak jam sembilan malam, listrik masih belum nyala. Kami sekeluarga bertahan di rumah Eyang karena di situ ada genset. Kalau pulang ke rumah berarti hanya diterangi lilin, plus hawa panasnya itu lho yang bikin Hilmi-Hanif-Hisyam susah tidur. Jadilah malam itu kami bermalam di tempat Eyang supaya anak-anak bisa tidur dengan kipas angin.
Hmm, sudah jam dua belas koq belum nyala ya? Eyang Kakung mulai kesal nih. Apalagi setelah lihat ke luar rumah ternyata di daerah Pupuk dan PDAM sudah menyala lampunya. Akhirnya Eyang Kung sambar motor.
"Ke mana Pak?" tanya Bunda.
"Mau ke PLN," jawab Eyang Kung singkat.
Sepulang dari PLN Eyang masih jutek, tidak ada jawaban memuaskan. Hanya permintaan maaf yang diterima. Alasannya, ada gangguan karena di hulu Mahakam sedang banjir. Karena genset sudah menyala cukup lama, akhirnya terpaksa dimatikan. Kalau tetap dibiarkan menyala pasti overheat dan rusak. Jadilah Ayah Bunda ngipasin Hilmi-Hanif-Hisyam sambil terkantuk-kantuk. Alhamdulillah sekitar jam 2 pagi listrik akhirnya menyala.
Pagi-pagi di kantor Ayah semua pembicaraan berkisar pada masalah listrik. Ada rumah teman Ayah yang bahkan hingga berangkat kerja belum menyala juga. Berita di koran, ternyata ada gangguan sistem interkoneksi Mahakam. Banyak wilayah di Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara (Kukar) yang mati listrik hingga 12 jam atau lebih.
Cita-cita Ayah sih, kalau sudah ada rizqi untuk renov rumah sekaligus pasang solar cell alias panel listrik tenaga surya. Ramah lingkungan, dan bisa 100% lepas dari PLN. Tentu kalau pasangnya buanyak
Tapi sementara belum pasang, ya terpaksa menggantungkan diri dengan PLN deh. Gimana nih Om Adho, koq listrik Balikpapan mati terus?
NB. Khasnya orang PLN, kalau ada yang protes tentang listrik pasti akan bilang "Jangankan rumah situ, rumah saya aja juga mati listrik!"